Pengikut

Menparekraf dorong desainer populerkan kain tradisional

Tuesday, April 1, 2014 | 3:39:00 AM

[ ANTARA News ] - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu mendorong desainer memopulerkan kain-kain tradisional khas Indonesia seperti songket dan sarung.

"Batik sudah demikian memasyarakat, kita harapkan kain tradisional lain seperti songket dan sarung akan menyusul," kata Mari Elka Pangestu di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, desainer adalah insan kreatif yang potensial menggairahkan minat masyarakat untuk menyukai kain tradisional tertentu yang pamornya sudah mulai terlupakan.

Sebab, kata Mari, desainer mampu mengkreasikan produk-produk tradisional dalam kemasan yang baru, kreatif, dan mengikuti perkembangan zaman.

"Mereka berani berkreasi tanpa batas, misalnya yang dilakukan desainer Ghea Panggaben dengan tableware songket, itu luar biasa," katanya.

Desainer pulalah menurut Menteri yang mampu membangun kolaborasi antara penenun songket dengan pembuat porselen yang potensial meningkatkan kesejahteraan mereka.

"Saya ucapkan selamat kepada orang-orang kreatif. Ini bukti nyata Indonesia kaya akan budaya dan penuh dengan kreativitas," katanya.

Pada kesempatan yang sama, desainer Ghea Panggabean mengatakan dirinya sangat mengagumi kemampuan para penenun dalam menyimpan pola-pola rumit dan melalui daya ingat mereka lalu dibuat dengan peralatan tenun tangan tradisional.

"Sederhana, sementara cara kerja seperti ini diturunkan dari generasi ke generasi sebagai warisan budaya tak benda," katanya.

Hal itulah yang menjadikan songket Palembang termasuk kain termahal di dunia yang juga sakral karena berimbuh aneka filosofi tradisional berkaitan dengan siklus kehidupan mulai lahir sampai mati.

Ghea sendiri yang pada 26 Maret 2014 berulang tahun menggelar fashion show bertema The Treasures of Sriwijaya yang menampilkan Songket Palembang Tableware serta beberapa rancangan bertema songket dari perancang Ghea berkolaborasi dengan Zen.(*)



Editor: Ruslan Burhani
3:39:00 AM | 0 comments | Read More

Lomba Esai Sosbud Nasional 2014

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengundang pelajar SMA/sederajat untuk menuangkan gagasan dalam Lomba Esai Sosial Budaya Nasional 2014 dengan tema “Kaum Muda dan Budaya Demokrasi”. Total Hadiah Lebih dari 64 Juta Rupiah. Juara I : Rp 10.000.000 + piagam. Juara II : Rp 9.000.000 + piagam. Juara III : Rp 8.000.000 + piagam. Juara Harapan I : Rp 6.000.000 + piagam. Juara Harapan II : Rp 5.000.000 + piagam. Juara Harapan III : Rp 4.000.000 + piagam. Hadiah untuk 9 Finalis lainnya : Rp 2.500.000 + piagam. Bagi siswa yang diampu Pak Hery Nugroho, apabila masuk final akan mendapatkan nilai plus.
Adapun contoh karya pemenang 2013, lampiran, dam panduannya bisa dilihat di bawah ini.
Contoh karya pemenang tahun 2013 Buku_Harmoni-di-Mata-Kaum-Muda_2013A
lampiran karya orisinil LEMBAR-ORISINALITAS-KARYA
Bukan karena hadiah atau nilai, tetapi memberikan kemanfaatan kepada masyarakat serta beribadah kepada Allah Swt.
Menulis adalah beribadah. Berkarya adalah ibadah.
Selamat beribadah, berjuang, dan belajar. Semoga Sukses. Amiin.
PANDUAN LOMBA ESAI SOSIAL BUDAYA NASIONAL 2014
“Kaum Muda dan Budaya Demokrasi”
(17 Maret – 18 Mei 2014)
TEMA LOMBA
Demokrasi merupakan ikhtiar untuk memperjuangkan dan mendialogkan aspirasi warga negara. Melalui pesta demokrasi, setiap warga dapat mengajukan diri untuk memilih dan dipilih. Di tahun 2014 ini Indonesia memasuki tahap yang menentukan dalam berdemokrasi dan kepemimpinan ke depan. Selain karena gegap gempita pesta demokrasi, di tahun ini pula Indonesia memasuki tahapan penting secara demografis, di mana jumlah penduduk produktif lebih banyak dibandingkan kelompok tidak produktif (bonus demografi). Bonus demografi akan tercapai bila diikuti oleh sistem dan aparat yang kompeten yang dihasilkan dari proses pemilihan di tahun politik ini.
Pesta demokrasi melalui ajang pemilihan calon anggota legislatif dan presiden, di satu sisi merupakan peristiwa politik sebagai sarana menyalurkan aspirasi. Namun di sisi lain, pesta demokrasi juga merupakan peristiwa budaya, di mana insan demokrasi menyusun strategi, pola, dan asas yang lantas menjadi perilaku kolektif sehingga membentuk apa yang disebut sebagai budaya demokrasi. Sayangnya, budaya demokrasi belum mencerminkan prinsip-prinsip persamaan, kebebasan, dan pluralisme. Belum lagi berbagai dampak sosial budaya, seperti pendangkalan nilai-nilai demokrasi (seperti berkembangnya politik uang), maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), berkurangnya keadaban publik (kesantunan dalam berdemokrasi), dan buruknya perilaku calon wakil rakyat (sebelum dan setelah menjabat).
Untuk itu, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengundang pelajar SMA/sederajat untuk menuangkan gagasan dalam Lomba Esai Sosial Budaya Nasional 2014 dengan tema “Kaum Muda dan Budaya Demokrasi”. Sayembara ini tidak hanya bertujuan untuk merekam berbagai peristiwa budaya di sekitar pesta demokrasi, tetapi juga gagasan dan pandangan kaum muda untuk mengatasi berbagai soal guna membangun kehidupan demokrasi yang lebih baik.
MEKANISME LOMBA
A. Ketentuan Umum
1. Peserta adalah pelajar tingkat SMA/sederajat.
2. Peserta tidak dipungut biaya.
3. Untuk memberi kesempatan yang lebih luas, finalis lomba tahun 2013 tidak diperkenankan mengikuti lomba ini.
4. Naskah esai yang dilombakan merupakan karya perorangan dan belum pernah dipublikasikan.
5. Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu karya (maksimal 2 karya).
6. Naskah esai minimal 5 halaman dan maksimal 10 halaman.
7. Naskah diketik di kertas A4, font Times New Roman 12, spasi 1,5. Margin 4 cm kiri, 3 cm kanan, 3 cm bawah, dan 3 cm atas.
8. Judul esai bebas, namun harus sesuai dengan tema lomba.
9. Naskah esai berisi tiga bagian yang tidak perlu disebut secara eksplisit, yaitu pendahuluan (berisi latar persoalan dan identifikasi topik bahasan), isi (pembahasan dan analisis), dan konklusi (kesimpulan/penutup).
B. Pengiriman Naskah Esai
1. Naskah dapat dikirim melalui email atau pos.
2. Naskah yang dikirim melalui email paling lambat 18 Mei 2014 pukul 24.00 WIB ke alamat: lomba@lktikebudayaan.com
3. Naskah yang dikirim melalui pos paling lambat 10 Mei 2014 (cap pos) ke alamat: Panitia Lomba Esai Sosial Budaya Nasional 2014, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kompleks Kemdikbud, Jln. Jenderal Sudirman-Senayan, Gedung E Lantai 19, Jakarta 10270.
4. Naskah yang dikirim di luar waktu yang telah ditentukan tidak akan diikutsertakan dalam lomba.
5. Naskah esai yang dikirim via email dikirim dalam format MS. Word dengan nama file: “Nama_Judul Esai”.
6. Lampiran lembar orisinalitas karya dipindai/di-scan/difoto dan dikirim dalam format JPEG/PDF dengan nama file: Nama Lengkap Penulis.
7. File JPEG/PDF yang dikirim tidak melebihi 5 Megabita (MB).
8. Pada subyek/judul email ditulis dalam format: “Nama_Judul Esai”.
9. Naskah yang tidak disertai lembar orisinalitas karya dianggap gugur.
10. Berkas yang dikirim meliputi: (1) naskah esai dan (2) lembar orisinalitas karya dilampirkan dalam satu email/amplop.
11. Contoh lembar orisinalitas karya dapat dilihat di tautan berikut: Lembar_Orisinalitas.
C. DEWAN JURI
• Dr. Donny Gahral Adian (Pengamat Demokrasi dan Dosen Filsafat UI)
• Dr. Ali Humaedi (Peneliti PMB-LIPI)
• S. Dloyana Kusumah (Peneliti Puslitbang Kebudayaan)
• Putu Fajar Arcana (Redaktur Budaya Kompas)
• Setiawati Intan Savitri (Forum Lingkar Pena)
D. HADIAH
Total Hadiah Lebih dari 64 Juta Rupiah
Juara I : Rp 10.000.000 + piagam
Juara II : Rp 9.000.000 + piagam
Juara III : Rp 8.000.000 + piagam
Juara Harapan I : Rp 6.000.000 + piagam
Juara Harapan II : Rp 5.000.000 + piagam
Juara Harapan III : Rp 4.000.000 + piagam
Hadiah untuk 9 Finalis lainnya : Rp 2.500.000 + piagam
* Pajak hadiah ditanggung panitia
** Karya para finalis akan diterbitkan dalam buku kumpulan esai terbaik.
E. Seleksi dan Penjurian
1. Penjurian dilakukan pada 19 Mei s.d 14 Juni 2014.
2. Pengumuman 15 finalis pada 17 Juni 2014 melalui laman http//www.lktikebudayaan.com, laman http://www.kemdikbud.go.id, serta laman http://litbang.kemdikbud.go.id
3. Sejumlah 15 finalis akan diundang dan dibiayai ke Jakarta untuk melakukan presentasi di depan dewan juri.
4. Biaya penginapan dan tranportasi ditanggung oleh panitia.
5. Presentasi finalis, pengumuman pemenang, dan penyerahan hadiah dilakukan pada 26 – 29 Juni 2014 di Jakarta.
6. Keputusan Dewan Juri adalah mutlak, tidak dapat diganggu-gugat.
7. Aspek-aspek yang dinilai dan bobot penjurian:
No Aspek Penilaian Uraian Bobot
1. Kesesuaian Tema • Topik ditulis sesuai dengan tema, dilihat dari rumusan judul dan kesesuaian dengan bahasan/isi tulisan. 10%
2. Gagasan • Orisinal: gagasan relatif baru dan unik.
• Kreatif: menunjukkan pemahaman baru atas persoalan yang dibahas.
• Aktual: gagasan sesuai dengan kondisi kekinian dengan menyajikan data dan fakta.
• Disajikan secara komprehensif. 30%
3. Argumentasi • Gagasan runtut, tertib, dan jelas (mudah dimengerti).
• Relevensi data dan informasi yang diacu dengan uraian tulisan.
• Kemampuan menganalisis & sintesis serta merumuskan simpulan 40%
4. Penulisan • Tata tulis: kerapihan ketik, tata letak, dan jumlah halaman.
• Pengungkapan: sistematika tulisan, ketepatan dan kejelasan ungkapan, bahasa baku yang baik dan benar, komunikatif, dan relatif mudah dipahami. 20%
PANITIA LOMBA ESAI SOSIAL BUDAYA NASIONAL 2014
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan
Alamat: Kompleks Kemdikbud, Jln. Jenderal Sudirman-Senayan,
Gedung E Lantai 19, Jakarta 10270
Telepon: (021) 5725573, Faksimile: (021) 5725543
Email : lomba@lktikebudayaan.com
Laman : http//www.lktikebudayaan.com
2:58:00 AM | 0 comments | Read More

Strategi Pembangunan Kebudayaan 2014

Wiendu Nuryanti, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan memberikan paparan dalam Sidang Komisi Rembuknas 2014. Dalam memberikan paparan ini, beliau ditemani oleh Kacung Marijan, Dirjen Kebudayaan. Wamendikbud mengatakan bahwa Rembuknas seharusnya tidak hanya melibatkan pihak pemerintahan melainkan juga harus melibatkan pihak swasta.
Sidang komisi membahas tentang sub topik program priorotas nasional bidang kebudayaan, turunan UU bidang kebudayaan, tindak lanjut Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) dan World Culture Forum (WCF), implementasi rencana induk nasional pembangunan kebudayaan, dan pengayaan materi kebudayaan dan kurikulum.

IMG_4454
Wamendikbud menjabarkan mengenai isu-isu strategis dalam rencana induk nasional pembangunan kebudayaan 2010-2025. Isu-isu tersebut yaitu :
  1. Penguatan Hak Berkebudayaan
  2. Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa serta Multikultural
  3. Pelestarian Sejarah dan Warisan Budaya
  4. Pengembangan Industri Budaya
  5. Penguatan Diplomasi Budaya
  6. Pengembangan SDM dan Pranata Kebudayaan
  7. Pengembangan Sarana dan Prasarana Kebudayaan
Program kebudayaan dalam pengayaan kurikulum :
 PROGRAM
2:56:00 AM | 0 comments | Read More

Lomba Foto dab Penulisan Artikel Bidang Pendidikan dan Kebudayaan 2014

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2014, Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (PIH Kemdikbud), menyelenggarakan Lomba Foto, Penulisan Artikel dan Feature Bidang Pendidikan dan Kebudayaan 2014.
Tema Lomba adalah: “Mendidik Sejak Dini, Sekolah Setinggi Mungkin, Menjangkau Lebih Luas”
Untuk subtema dan kriteria lomba, dapat mengunduh file di bawah ini.
- See more at: http://www.kopertis12.or.id/2014/02/28/lomba-foto-dan-penulisan-artikel-dan-feature-bidang-pendidikan-dan-kebudayaan-2014.html#sthash.XU2RSx4k.dpuf
Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2014, Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (PIH Kemdikbud), menyelenggarakan Lomba Foto, Penulisan Artikel dan Feature Bidang Pendidikan dan Kebudayaan 2014.

Tema Lomba adalah: “Mendidik Sejak Dini, Sekolah Setinggi Mungkin, Menjangkau Lebih Luas”

Untuk subtema dan kriteria lomba, dapat mengunduh file di bawah ini.
Lampiran:
Pengumuman Lomba Artikel dan Feature
Pengumuman Lomba Foto



Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2014, Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (PIH Kemdikbud), menyelenggarakan Lomba Penulisan Artikel dan Features Bidang Pendidikan dan Kebudayaan 2014.
Tema Lomba adalah:
“Mendidik Sejak Dini, Sekolah Setinggi Mungkin, Menjangkau Lebih Luas”
Subtema:
  • Pendidikan Anak Usia Dini – Satu desa Satu PAUD;
  • Pendidikan Menengah Universal dan Pendidikan Tinggi, Kurikulum 2013;
  • Pendirian Akademi Komunitas dan PTN Baru, Bidikmisi, BSM, BOS, BOS-SM, Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) dan Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM).
Kriteria Lomba:
  1. Penulisan artikel terbuka untuk umum sedangkan penulisan karangan khas (features) untuk wartawan media cetak.
  2. Artikel dan features adalah karya asli. Panitia berhak menggugurkan pemenang apabila di kemudian hari tulisan terbukti bukan karya asli.
  3. Artikel dan features belum pernah diikutsertakan dalam lomba apapun dan tidak sedang disertakan dalam lomba lainnya.
  4. Artikel dan feature dimuat pada media massa cetak yang terbit di Indonesia. Kategori Artikel dimuat pada periode 1 November 2013 s.d 10 April 2014, sedangkan kategori Features dimuat pada periode 1 Januari s.d 10 April 2014.
  5. Tulisan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  6. Pengiriman naskah artikel dan features dilampirkan bukti pemuatan serta fotokopi identitas, paling lambat tanggal 10 April 2014 (cap pos) dan diterima panitia paling lambat tanggal 14 April 2014, dikirim ke alamat panitia lomba: Pusat Informasi dan Humas, Gedung C lt. 4, Kemdikbud, Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat.
  7. Peserta dapat mengirimkan maksimal 5 naskah artikel dan features.
  8. Pengumuman hasil lomba melalui www.kemdikbud.go.id pada 9 Mei 2014.
  9. Pemenang I, II, dan III tiap kategori berhak atas piagam penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan uang tunai masing-masing sebesar:
  • Juara I : Rp 10.000.000 (dipotong pajak)
  • Juara II : Rp 7.500.000 (dipotong pajak)
  • Juara III : Rp 5.000.000 (dipotong pajak)
    10. Keputusan juri bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat.

Jakarta. 28 Februari 2014
Panitia Lomba
Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat
2:47:00 AM | 0 comments | Read More

Wilsen: Pelopor Dokumenter Borobudur

Friday, February 28, 2014 | 1:21:00 AM

CANDI BOROBUDUR yang sempat "hilang" selama berabad-abad akhirnya berhasil ditemukan kembali pada 1814 ketika Jawa dikuasai Pemerintahan Britania (Inggris). Sedang proses pendokumentasian Candi Borobudur diawali oleh Wilsen sejak tahun 1849 ketika Indonesia di bawah kekuasaan Belanda. Mengenai proses dokumentasi dalam bentuk foto baru dimulai  pada tahun 1873 oleh Van Kinsbergen.


Candi Borobudur konon sempat "hilang" selama berabad-abad akibat terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang diduga dari letusan gunung berapi. Candi ini baru ditemukan kembali pada tahun 1814 ketika Jawa berada di bawah pemerintahan Britania (Inggris) pada kurun 1811 hingga 1816.Ketika itu, Sir Thomas Stanford Raffles - yang ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal - memiliki minat istimewa terhadap sejarah Jawa. Pada saat mengadakan kegiatan di Semarang, Raffles mendapatkan informasi bahwa di daerah Kedu telah ditemukan susunan batu bergambar.

Berawal dari informasi tersebut, Raffles akhirnya mengutus Cornelius seorang Belanda untuk membersihkannya. Pekerjaan ini dilanjutkan oleh Residen Kedu yang bernama Hartman pada tahun 1835. Disamping kegiatan pembersihan, Raffles juga mengadakan penelitian terhadap stupa puncak Candi Borobudur, namun sayang mengenai laporan penelitian ini tidak pernah terbit. Sedang pendokumentasian pertama dilakukan oleh Wilsen mulai tahun 1849 melalui gambar-gambar sketsa. Sedangkan dokumen foto baru dibuat pada tahun 1873 oleh Van Kinsbergen. 

FC Wilsen adalah seorang insinyur pejabat Belanda bidang teknik. Setelah mempelajari Borobudur, Wilson akhirnya berhasil menggambar ratusan sketsa relief. Kala itu, JFG Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci terhadap Borobudur dan berhasil diselesaikan pada 1859. Rencananya, Pemerintah Belanda akan menerbitkan artikel penelitian Brumund yang dilengkapi sketsa-sketsa karya Wilsen. Namun, entah kenapa Brumund ternyata menolak untuk bekerja sama. Karena itu, Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C Leemans. 

Pemerintah Belanda akhirnya menerbitkan monograf pertama dan penelitian detil Borobudur pada 1873 setelah  hasil kerja Brumund dan Wilsen dikompilasikan dengan hasil kerja Leemans. Hasil kerja ketiga tokoh tersebut kemudian diterjemahkan dalam bahasa Perancis setahun kemudian.

Hasil Dokumentasi Wilsen:
Boro-Boedoer op het eiland Java' / afgebeeld door en onder toezigt van F.C. Wilsen ; met toelichtenden en verklarenden tekst, naar de geschreven en gedrukte verhandelingen van F.C. Wilsen, J.F.G. Brumund en andere bescheiden, bew. en uitg. ... door C. Leemans. - Leiden : Brill. LIX, 667 p. Gepubliceerd: door C. Leemans. - Leiden : Brill, 1873. - No. 55, pl. XLIII

'Bôrô-Boedoer op het eiland Java' / afgebeeld en onder toezigt van F.C. Wilsen [...] ; bew. en uitg. ... door C. Leemans. - Leiden : Brill, 1873. - LIX, 667 p. + 393 pl. (groot formaat) Kopie naar plaat No. 161 uit:




'Bôrô-Boedoer op het eiland Java' / afgebeeld en onder toezigt van F.C. Wilsen [...] ; bew. en uitg. ... door C. Leemans. - Leiden : Brill, 1873. - LIX, 667 p. + 393 pl. (groot formaat) Kopie naar plaat No. 115 uit

Hasil Dokumentasi Van Kinsbergen
Stupa's op de Boroboedoer bij Magelang (1874) [Repro foto: Van Kinsbergen]


1:21:00 AM | 0 comments | Read More

Riwayat Borobudur dari Balai Konservasi



 Borobudur - Totaal aanzicht NW hoek (1890) [Foto: Repro KITLV]
Letak
Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Secara astronomis terletak di 7° 36' 28'' LS dan 110° 12' 13'' BT. Lingkungan geografis Candi Borobudur dikelilingi oleh Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah Timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah Utara, dan pegunungan Menoreh di sebelah Selatan, serta terletak di antara Sungai Progo dan Elo. Candi Borobudur didirikan di atas bukit yang telah dimodifikasi, dengan ketinggian 265 dpl.
Bentuk Bangunan
- Denah Candi Borobudur ukuran panjang 121,66 meter dan lebar 121,38 meter.
- Tinggi 35,40 meter.
- Susunan bangunan berupa 9 teras berundak dan sebuah stupa induk di puncaknya. Terdiri dari 6 teras berdenah persegi dan3 teras berdenah lingkaran.
- Pembagian vertikal secara filosofis meliputi tingkat Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.
- Pembagian vertikal secara teknis meliputi bagian bawah, tengah, dan atas.
- Terdapat tangga naik di keempat penjuru utama dengan pintu masuk utama sebelah timur dengan ber-pradaksina.
- Batu-batu Candi Borobudur berasal dari sungai di sekitar Borobudur dengan volume seluruhnya sekitar 55.000 meter kubik (kira-kira 2.000.000 potong batu)
————————————————–
Riwayat Temuan
Candi Borobudur muncul kembali tahun 1814 ketika Sir Thomas Stanford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris yang menjadi wali negara Indonesia mengadakan kegiatan di Semarang, waktu itu Raffles mendapatkan informasi bahwa di daerah Kedu telah ditemukan susunan batu bergambar, kemudian ia mengutus Cornelius seorang Belanda untuk membersihkannya. Pekerjaan ini dilanjutkan oleh Residen Kedu yang bernama Hartman pada tahun 1835. Disamping kegiatan pembersihan, ia juga mengadakan penelitian khususnya terhadap stupa puncak Candi Borobudur, namun sayang mengenai laporan penelitian ini tidak pernah terbit. Pendokumentasian berupa gambar bangunan dan relief candi dilakukan oleh Wilsen selama 4 tahun sejak tahun 1849, sedangkan dokumen foto dibuat pada tahun 1873 oleh Van Kinsbergen. Menurut legenda Candi Borobudur didirikan oleh arsitek Gunadharma, namun secara historis belum diketahui secara pasti. Pendapat Casparis berdasarkan interpretasi prasasti berangka tahun 824 M dan prasasti Sri Kahulunan 842 M, pendiri Candi Borobudur adalah Smaratungga yang memerintah tahun 782-812 M pada masa dinasti Syailendra. Candi Borobudur dibangun untuk memuliakan agama Budha Mahayana.
Pendapat Dumarcay Candi Borobudur didirikan dalam 5 tahap pembangunan yaitu:
- Tahap I + 780 Masehi
- Tahap II dan III + 792 Masehi
- Tahap IV + 824 Masehi
- Tahap V + 833 Masehi
————————————————–
Nama Candi Borobudur
Mengenai penamaannya juga terdapat beberapa pendapat diantaranya:
Raffles: Budur yang kuno (Boro= kuno, budur= nama tempat) Sang Budha yang agung (Boro= agung, budur= Buddha) Budha yang banyak (Boro= banyak, budur= Buddha)
Moens: Kota para penjunjung tinggi Sang Budha
Casparis: Berasal dari kata sang kamulan ibhumisambharabudara, berdasarkan kutipan dari prasasti Sri Kahulunan 842 M yang artinya bangunan suci yang melambangkan kumpulan kebaikan dari kesepuluh tingkatan Bodhisattva.
Poerbatjaraka: Biara di Budur (Budur= nama tempat/desa)
Soekmono dan Stutertheim: Bara dan budur berarti biara di atas bukit Menurut Soekmono fungsi Candi Borobudur sebagai tempat ziarah untuk memuliakan agama Budha aliran Mahayana dan pemujaan nenek moyang.
————————————————–
Pemugaran
Upaya pemugaran Candi Borobudur dilakukan sebanyak dua kali yaitu pertama dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dibawah pimpinan Van Erp dan yang kedua dilakukan oleh pemerintah Indonesia yang diketuai oleh Soekmono (alm).
Pemugaran I tahun 1907 – 1911, Pemugaran I sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah Hindia Belanda. Sasaran pemugaran lebih banyak ditujukan pada bagian puncak candi yaitu tiga teras bundar dan stupa pusatnya. Namun oleh karena beberapa batunya tidak diketemukan kembali, bagian puncak (catra) stupa, tidak bisa dipasang kembali. Pemugaran bagian bawahnya lebih bersifat tambal sulam seperti perbaikan/pemerataan lorong, perbaikan dinding dan langkan tanpa pembongkaran sehingga masih terlihat miring. Usaha-usaha konservasi telah dilakukan sejak pemugaran pertama oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan terus menerus mengadakan pengamatan dan penelitian terhadap Candi Borobudur, sementara proses kerusakan dan pelapukan batu-batu Candi Borobudur yang disebabkan oleh berbagai faktor terus berlangsung. Dan hasil penelitian yang diadakan oleh suatu panitia yang dibentuk dalam tahun 1924 diketahui bahwa sebab-sebab kerusakan itu ada 3 macam, yaitu korosi, kerja mekanis dan kekuatan tekanan dan tegangan di dalam batu-batu itu sendiri (O.V. 1930 : 120-132).
Pemugaran II tahun 1973 – 1983, Sesudah usaha pemugaran Van Erp berhasil diselesaikan pada tahun 1911, pemeliharaan terhadap Candi Borobudur terus dilakukan. Berdasarkan perbandingan antara kondisi saat itu dengan foto-foto yang dibuat Van Erp 10 tahun sebelumnya, diketahui ternyata proses kerusakan pada Candi Borobudur terus terjadi dan semakin parah, terutama pada dinding relief batu-batunya rusak akibat pengaruh iklim. Selain itu bangunan candinya juga terancam oleh kerusakan. Dengan masuknya Indonesia menjadi anggota PBB, maka secara otomatis Indonesia menjadi anggota UNESCO. Melalui lembaga UNECO tersebut, Indonesia mulai mengimbau kepada dunia internasional untuk ikut menyelamatkan bangunan yang sangat bersejarah tersebut. Usaha tersebut berhasil, dengan dana dari Pelita dan dana UNESCO, pada tahun 1975 mulailah dilakukan pemugaran secara total. Oleh karena pada tingkat Arupadhatu keadaannya masih baik, maka hanya tingkat bawahnya saja yang dibongkar. Dalam pembongkaran tersebut ada tiga macam pekerjaan, yaitu tekno arkeologi yang terdiri atas pembongkaran seluruh bagian Rupadhatu, yaitu empat tingkat segi empat di atas kaki candi, pekerjaan teknik sipil yaitu pemasangan pondasi beton bertulang untuk mendukung Candi Borobudur untuk setiap tingkatnya dengan diberi saluran air dan lapisan kedap air di dalam konstruksinya, dan pekerjaan kemiko arkeologis yaitu pembersihan dan pengawetan batu-batunya, dan akhirnya penyusunan kembali batu-batu yang sudah bersih dari jasad renik (lumut, cendawan, dan mikroorganisme lainnya) ke bentuk semula.
————————————————-
Relief
Disamping maknanya sebagai lambang alam semesta dengan pembagian vertikal secara filosofis meliputi Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, Candi Borobudur mengandung maksud yang amat mulia, maksud ini diamanatkan melalui relief-relief ceritanya. Candi Borobudur mempunyai 1.460 panil relief cerita yang tersusun dalam 11 deretan mengitari bangunan candi dan relief dekoratif berupa relief hias sejumlah 1.212 panil. Relief cerita pada tingkat Kamadhatu (kaki candi) mewakili dunia manusia menggambarkan perilaku manusia yang masih terikat oleh nafsu duniawi. Hal ini terlihat pada dinding kaki candi yang asli terpahatkan 160 panil relief Karmawibhangga yang menggambarkan hukum sebab akibat. Tingkat Rupadhatu (badan candi) mewakili dunia antara, menggambarkan perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi, akan tetapi masih terikat oleh suatu pengertian dunia nyata. Pada tingkatan ini dipahatkan 1.300 panil yang terdiri dari relief Lalitavistara, Jataka, Avadana, dan Gandawyuha. Berikut uraian singkat dari relief tersebut:
1. Tingkat I
- dinding atas relief Lalitavistara : 120 panilRelief ini menggambarkan riwayat hidup Sang Buddha Gautama dimulai pada saat para dewa di surga Tushita mengabulkan ermohonan Bodhisattva untuk turun ke dunia menjelma menjadi manusia bernama Buddha Gautama. Ratu Maya sebelum hamil bermimpi menerima kehadiran gajah putih dirahimnya. Di Taman Lumbini Ratu Maya melahirkan puteranya dan diberi nama pangeran Sidharta. Pada waktu lahir Sidharta sudah dapat berjalan, dan pada tujuh langkah pertamanya tumbuh bunga teratai. Setelah melahirkan Ratu Maya meninggal, dan Sidharta diasuh oleh bibinya Gautami. Setelah dewasa Sidharta kawin dengan Yasodhara yang disebut dengan dewi Gopa. Dalam suatu perjalanan Sidharta mengalami empat perjumpaan yaitu bertemu dengan pengemis tua yang buta, orang sakit, orang mati membuat Sidharta menjadi gelisah, karena orang dapat menjadi tua, menderita, sakit dan mati. Akhirnya Sidharta bertemu dengan seorang pendeta, wajah pendeta itu damai, umur tua, sakit, dan mati tidak menjadi ancaman bagi seorang pendeta. Oleh karena menurut ramalan Sidharta akan menjadi pendeta, maka ayahnya mendirikan istana yang megah untuk Sidaharta. Setelah mengalami empat perjumpaan tersebut Sidharta tidak tenteram tinggal di istana, akhirnya diam-diam meninggalkan istana. Sidharta memutuskan enjadi pendeta dengan memotong rambutnya. Pakaian istana ditinggalkan dan memakai pakaian budak yang sudah meninggal, dan bersatu dengan orang-orang miskin. Sebelum melakukan samadi Sidharta mensucikan diri di sungai Nairanjana. Sidharta senang ketika seorang tukang rumput mempersembahkan tempat duduk dari rumput usang. Di bawah pohon Bodhi pada waktu bulan purnama di bulan Waisak, Sidharta menerima pencerahan sejati, sejak itu Sidharta menjadi Buddha di kota Benares.
- dinding bawah relief Manohara dan Avadana : 120 panilCerita Manohara menggambarkan cerita udanakumaravada yaitu kisah perkawinan pangeran Sudana dengan bidadari Manohara. Karena berjasa menyelamatkan seekor naga, seorang pemburu bernama Halaka mendapat hadiah laso dari orang tua naga. Pada suatu hari Halaka melihat bidadari mandi di kolam, dengan lasonya berhasil menjerat salah seorang bidadari tercantik bernama Manohara. Oleh karena Halaka tidak sepadan dengan Manohara, maka Manohara dipersembahkan kepada pangeran Sudana, meskipun ayah Sudana tidak setuju. Banyaknya rintangan tidak dapat menghalangi pernikahan pangeran Sudana dengan Manohara. Cerita Awadana mengisahkan penjelmaan kembali orang-orang suci, diantaranya kisah kesetiaan raja Sipi terhadap makhluk yang lemah. Seekor burung kecil minta tolong raja Sipi agar tidak dimangsa burung elang. Sebaliknya burung elang minta raja Sipi menukar burung kecil dengan daging raja Sipi. Setelah ditimbang ternyata berat burung kecil dengan raja Sipi sama beratnya, maka raja Sipi bersedia mengorbankan diri dimangsa burung elang. Seorang pemimpin harus berani mengorbankan dirinya untuk rakyat kecil dan semua makhluk hidup.
- langkan bawah (kisah binatang) relief Jatakamala: 372 panil langkan atas (kisah binatang) relief Jataka:128 panil Relief ini mempunyai arti untaian cerita jataka yang mengisahkan reinkarnasi sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai seorang manusia bernama pangeran Sidharta Gautama. Kisah ini cenderung pada penjelmaan sang Buddha sebagai binatang yang berbudi luhur dengan pengorbanannya. Cerita jataka diantaranya kisah kera dan banteng. Kera yang nakal suka mengganggu banteng, namun banteng diam saja. Dewi hutan menasehati banteng untuk melawan kera, namun banteng menolak mengusir kera karena takut kera akan pergi dari hutan dan mengganggu kedamaian binatang-binatang lain. Akhirnya dewi hutan bersujud kepada banteng karena sikap banteng didalam menjaga keserasian dan kedamaian di hutan. Kisah jataka lainnya adalah pengorbanan seekor gajah yang mempersembahkan dirinya untuk dimakan oleh para pengungsi yang kelaparan.
2. Tingkat II
- dinding relief Gandawyuha : 128 panil
- langkan relief Jataka/Avadana : 100 panil Relief ini mungkin melanjutkan kehidupan Sang Buddha di masa lalu. Beberapa adegan dikenal kembali antara lain terdapat pada sudut barat laut, yaitu Bodhisattva menjelma sebagai burung merak dan tertangkap, akhirnya memberikan ajarannya.
3. Tingkat III
dinding relief Gandawyuha : 88 panil
Relief ini menggambarkan riwayat Bodhisattva Maitreya sebagai calon Budha yang akan datang, merupakan kelanjutan dari cerita di tingkat II.
————————————————–
Arca
- Tokoh yang diarcakan: Dhyani Buddha, Manusi Buddha, dan Boddhisatva.
- Jumlah arca : 504 buah
Rincian letak arca :
- Pada tingkat Rupadhatu terdapat 432 arca, ukuran semakin ke atas semakin kecil dan diletakkan pada relung, dengan rincian: Teras I : 104 arca Teras II : 104 arca Teras III : 88 arca Teras IV : 72 arca Teras V : 64 arca
- Pada tingkat Arupadhatu terdapat 72 arca dengan ukuran sama dan diletakkan di dalam stupa, dengan rincian:Teras VI : 32 arca Teras VII : 24 arca Teras VIII : 16 arca
- Pada tingkat Rupadhatu ini terdapat 432 arca Dyani Buddha diletakkan di dalam relung di segala penjuru arah mata angin yaitu: Arca Dhyani Buddha Aksobya letak di sisi Timur dengan sikap tangan Bhumisparsamudra, Arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa letak sisi Selatan dengan sikap tangan Waramudra, Arca Dhyani Buddha Amoghasidha letak di sisi Utara dengan sikap tangan Abhayamudra, Arca Dhyani Buddha Wairocana di pagar langkan tingkat V dengan sikap Witarkamudra
- Di dalam stupa teras I, II, dan III terdapat arca Dhyani Buddha Vajrasattva dengan sikap tangan Dharmacakramudra
- Arca singa : 32 buahMenurut agama Buddha singa adalah kendaraan sang Buddha pada waktu naik ke surga, simbol kekuatan pengusir pengaruh jahat untuk menjaga kesucian Candi Borobudur.
————————————————–
Stupa
Jumlah stupa 73 buah dengan rincian 1 buah stupa induk, 32 stupa pada teras melingkar I, 24 stupa pada teras melingkar II, dan 16 stupa pada teras melingkar III.
Bentuk stupa :
- Stupa induk berongga, tanpa lubang terawang
- Stupa pada teras melingkar berlubang terawang:Lubang belah ketupat pada stupa teras melingkar I dan II Lubang segi empat pada stupa teras melingkar III
- Arti simbolis lubang terawang belah ketupat: Berkaitan dengan filosofi menuju ke tingkat kesempurnaan – Arti simbolis lubang terawang segi empat: Berkaitan dengan filosofi lebih sederhana atau ?sempurna? daripada bentuk belah ketupat yang masih tergolong raya.

————————————————–
Monitoring
Candi Borobudur setelah selesai dipugar tidak berarti selesai sudah perawatan terhadap candi tersebut. Tidak ada jaminan kalau Candi Borobudur terbebas dari proses kerusakan dan pelapukan. Oleh karena itu kantor Balai Konservasi Borobudur selalu melakukan monitoring dan evaluasi secara berkesinambungan. Misalnya monitoring melalui kegiatan observasi pertumbuhan mikroorganisme, observasi stabilitas batu candi, evaluasi struktur candi dan buki, observasi geohydrologi, observasi sistem drainase, analisis mengenai dampak lingkungan, dan lain-lain.
————————————————–
Perlindungan
Usaha perlindungan dilakukan dengan membuat mintakat (zoning) pada situs Candi Borobudur yaitu:
- Zone I Area suci, untuk perlindungan monumen dan lingkungan arkeologis (radius 200 m)
- Zone II Zona taman wisata arkeologi, untuk menyediakan fasilitas taman dan perlindungan lingkungan sejarah (radius 500 m)
- Zone III Zona penggunaan tanah dengan aturan khusus, untuk mengontrol pengembangan daerah di sekitar taman wisata (radius 2 km)
- Zone IV Zona Perlindungan daerah bersejarah, untuk perawatan dan pencegahan kerusakan daerah sejarah (radius 5 km)
- Zone V Zona taman arkeologi nasional, untuk survei arkeologi pada daerah yang luas dan pencegahan kerusakan monumen yang masih terpendam (radius 10 km)
Zona I dan zona II dimiliki oleh pemerintah. Zona I dikelola oleh Balai Studi dan Konservasi Borobudur, zona II dikelola oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Pada zona II juga tersedia fasilitas turis : parkir mobil, loket tiket, pusat informasi, museum, kios-kios, dan lain-lain. Zona III, IV, dan V dimiliki oleh masyarakat, tetapi pemanfaatannya dikontrol oleh pemerintah daerah.

[SUMBER: © Balai Konservasi Borobudur]
12:05:00 AM | 0 comments | Read More