SASTRA JAWA makin lama seperti semakin terpinggirkan. Tembang mocopat mislanya, hampir tak dikenali lagi oleh para generasi baru Indonesia. Jangankan Indonesia, di pusatnya budaya Jawa sendiri, Jawa Tengah, sulit menemukan anak-anak muda yang mengerti tentang Sastra Jawa. Ketika naik bus kota bersama para pelajar SLTA di Solo, Saya sempat bertanya tentang Tembang Mocopat pada mereka. Tapi, mereka tidak ada yang tahu-menahu soal karya sastra tradisional tersebut. Mungkinkah Mocopat akan punah? Bagaimana untuk melestarikannya jika para kaum muda lebih tertarik pada Lady Gaga, NOAH, SMASH dan produk seni modern lainnya?
Ketika Saya mencoba berselancar di internet, secara tak sengaja Saya bisa menemukan jawaban pertanyaan di atas. Kenapa? Karena di youtube Saya mendapati Sudjiwo Tedjo sedang mengajarkan Tembang Mocopat lewat video youtube. Dari sini Saya bisa paham, produk budaya modern ternyata tak selalu berdampak buruk pada budaya tradisional.
Harus diakui, derasnya arus revolusi media dewasa ini benar-benar telah memotong ruang, jarak dan waktu segala aktivitas manusia di dunia. Bukan hanya denyut politik - ekonomi dunia yang telah dibelah-belah oleh media bertehnologi tinggi, aktivitas sosial-budaya dan sederet efek domino yang dihasilkannya telah memaksa manusia harus mau 'melek' tehnologi, tak terkecuali Sudjiwo Tedjo. Mantan jurnalis yang kini lebih dikenal sebagai budayawan atau seniman tersebut kini larut dalam arus revolusi media dengan aneka macam ekspresi seni.
Salah satu aktivitas "Presiden Djancuker" - demikian sapaan akrab terbaru Sudjiwo Tedjo - adalah mempublikasikan video tutorial tentang tembang mocopat. Seperti ini isi ulah kreatif Sujiwo Tedjo:
Salah satu aktivitas "Presiden Djancuker" - demikian sapaan akrab terbaru Sudjiwo Tedjo - adalah mempublikasikan video tutorial tentang tembang mocopat. Seperti ini isi ulah kreatif Sujiwo Tedjo:
Berkat ulah kreatif Sudjiwo Tedjo itu, setidaknya seni-budaya tradisional nenek moyang kita bisa dilestarikan dan ditularkan kepada para generasi muda lewat media youtube. Terima kasih "Presiden Djancuker", semoga kerja Anda bisa bermanfaat bagi anak cucu Indonesia. Dan semoga saja langkah Sujiwo Tedjo tersebut juga menginspirasi para seniman tradisional daerah lainnya, termasuk seniman Solo, Sragen dan daerah Jawa Tengah lainnya dalam melestarikan seni-budaya peninggalan para leluhur. (Sutrisno Budiharto)
Posting Komentar