AWAL Juni 2012 lalu saya mendapat undangan dari Syed Iskandar (MKIM Curatorial Affairs) untuk menghadiri acara “Current Exhibition: Ann Dunham’s legacy: A Collection of Indonesian Batik” yang digelar di Museum Kesenian Islam Malaysia (MKIM) pada 8 Juni 2012 hingga 20 Juli 2012.
Acara itu jelas menarik karena memamerkan koleksi batik dari Ann Dunham, ibu dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Namun, karena bukan termasuk orang yang kelebihan harta, saya terpaksa tak dapat menghadiri acara tersebut dan lebih mementingkan mencari nafkah saja di negeri sendiri. Meski saya tak hadir dalam acara itu, Syed Iskandar kembali mengontak saya dan berbagi informasi seputar acara pameran batik koleksi Ann Dunham.
Bahkan, komentar Barack Obama sekitar batik Indonesia dan kegiatan ibunya selama tinggal di Indonesia juga dibeberkan. Seperti ini kutipannya:
Menurut Syed Iskandar, sejarah batik dan bagaimana proses membuat batik juga dibedah dalam acara itu. "Pameran juga mengungkap bagaimana batik dibuat, dipakai dan dikumpulkan," papar Syed Iskandar.
Apa yang saya dapat dari acara pameran batik koleksi ibunya Obama tersebut? Ketika membaca informasi yang dibagikan Syed Iskandar tersebut, saya agak terbengong. Lalu saya jadi bertanya-tanya; kenapa orang Indonesia tidak menggelar acara pameran batik koleksi ibunya Presedien AS tersebut di Indoensia? Padahal, Ann Dunham pernah lama tinggal di Indonesia dan banyak membantu para pengrajin batik lokal daerah pinggiran. Di sisi lain, seni batik dianggap sangat bermilai dan bukan sekedar melukiskan motif dekoratif ke selembar kain.
Dari sini saya bisa mengerti, alangkah besarnya kepedulian pemerintah Malaysia terhadap seni-budaya tradisional. Boleh jadi, dari besarnya perhatian Malaysia terhadap seni-budaya tradisional inilah yang bisa memicu seniman-seniman Malaysia menjadi 'kecanduan' terhadap seni-budaya tradisional Indonesia. Bukan tak mungkin, munculnya Reog Ponorogo atau tarian Tor-Tor di Malaysia awalnya hanya berasal dari adanya rasa peduli semacam ini. Celakanya, ketika orang Malaysia mahir mementaskan Reog Ponorogo atau tarian Tor-Tor, ada banyak yang kebakaran jenggot di Indonesia.
Pertanyaan yang muncul kemudian: mungkinkah orang-orang Indonesia akan makin sering kebakaran jenggot karena kalah peduli dalam melestarikan seni-budaya warisan para leluhur kita? Harapan saya, semoga saja tidak ada jenggot lagi yang terbakar oleh semangat lebih para seniman Malaysia dalam berkarya. Dan semoga saja, semangat para seniman di daerahku, Sragen, tidak kalah dengan para seniman Malaysia dalam mencintai warisan seni-budaya para leluhur.(*)
Pertanyaan yang muncul kemudian: mungkinkah orang-orang Indonesia akan makin sering kebakaran jenggot karena kalah peduli dalam melestarikan seni-budaya warisan para leluhur kita? Harapan saya, semoga saja tidak ada jenggot lagi yang terbakar oleh semangat lebih para seniman Malaysia dalam berkarya. Dan semoga saja, semangat para seniman di daerahku, Sragen, tidak kalah dengan para seniman Malaysia dalam mencintai warisan seni-budaya para leluhur.(*)

Posting Komentar