Setelah diubah menjadi rumah sakit khusus penanganan pasien corona, Rumah Sakit Pertamina Jaya (RSPJ) di Jalan Ahmad Yani, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, kini tidak menerima pasien umum lagi. Sejak 13 Maret 2020, RSPJ sudah tidak menerima pasien umum, baik rawat jalan maupun rawat inap.
Berbagai kesiapan pun dilakukan mulai dari membuat kamar isolasi hingga sumber daya manusia yang khusus penanganan virus corona. Rencananya RSPJ akan menjadi rumah sakit khusus penanganan pasien corona hingga tiga minggu kedepan.
Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Pertamina Jaya di Jakarta pada Rabu, 11 Maret 2020. Kunjungan ini dimaksudkan untuk memantau persiapan RSPJ sebagai salah satu rumah sakit BUMN yang akan dialihfungsikan menjadi rumah sakit khusus menangani penurunan imunitas tubuh salah satunya adalah untuk penanganan pasien Covid-19.
Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan jumlah kapasitas tempat tidur di RS Pertamina Jaya sebanyak 65 unit. Rumah sakit ini akan menangani pasien yang sudah positif virus corona.
"Jadi RS Pertamina Jaya akan gunakan bangunan lama di sekitar Cikini dan Pramuka. Itu ada ruangan isolasi dengan tekanan tinggi di tiga lantai, sehingga sistem penyaluran udaranya tidak terlewati virus," ungkap Arya, Selasa (17/3).
Ia merinci 65 unit tempat tidur itu terdiri dari 20 tempat tidur untuk perawatan setara ICU, sedangkan sisanya 45 tempat tidur untuk non ICU. Selain itu, RS Pertamina Jaya juga akan dilengkapi dengan laboratorium diagnostic untuk mendeteksi virus corona.
Seperti diketahui, dalam rangka mengantisipasi penyebaran virus Corona di Indonesia, Menteri BUMN Erick Thohir, telah menginstruksikan jajarannya agar menyiapkan 64 Rumah Sakit BUMN untuk bersiaga tangani masalah corona.
Pemerintah juga menyulap Hotel Patra Comfort sebagai rumah sakit untuk menangani masyarakat yang memiliki status ODP terkait virus corona. Arya menyatakan jumlah tempat tidur yang disediakan di hotel tersebut sebanyak 52 unit. "Jadi 52 tempat tidur itu untuk yang di hotel. Itu untuk ODP, jadi save house lah," jelas Arya.
Arya bilang akan ada 10 dokter spesialis, delapan dokter umum, dan tiga perawat yang terlatih menangani virus corona di rumah sakit dan hotel tersebut. Selain itu, pemerintah juga akan menambah kapasitas tempat tidur untuk menangani pasien yang terinfeksi virus corona.
"Sebanyak 90 tempat tidur kami tambahkan nantinya dengan bangunan khusus yang kami bangun. Ini dipersiapkan untuk pasien corona," pungkas Arya.
Direktur Utama Rumah Sakit Pertamina Pusat, dr. Fathema Djan Rachmat menjelaskan penyebaran virus Corona ini hanya bisa dicegah dengan membangun kesadaran dan kerjasama semua instansi terkait dengan rumah sakit terutama rumah sakit rujukan yang telah ditunjuk pemerintah.
“Pemahaman dan kerjasama harus dilakukan oleh semua pihak terkait dan 64 rumah sakit BUMN harus berperan aktif dalam pencegahan penyebaran infeksi Novel Coronavirus di Indonesia,” kata dr. Fathema.
dr. Fathema menambahkan penyebaran virus ini begitu cepat dan perlu mengambil langkah dengan tetap berhati-hati dan selalu siaga dalam menghadapi kemungkinan yang ada. Rumah Sakit BUMN yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dihimbau untuk melakukan kordinasi dengan pihak Kemenkes dan Dinas Kesehatan dari tingkat daerah hingga pusat dan 3 rumah sakit yang menjadi rujukan secara nasional, yaitu RSPAD Gatot Subroto, RS Persahabatan & RSPI Sulianti Saroso.
Dalam sosialisasi tersebut, pengetahuan tentang standar penanganan dan identifikasi sumber infeksi, juga digelar peragaaan penggunaan APD - Alat Pelindung Diri yang harus digunakan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit oleh Tim PPI RS Pusat Pertamina.
Direktur P2PML Kementerian Kesehatan RI, dr. Wiendra Waworuntu M.Kes mengingatkan atas pentingnya edukasi terhadap pasien, keluarga, dan masyarakat sehingga dapat meredam berita hoax yang beredar di masyarakat.
Sementara dr. Robert Shinto, SpPD, PTI-K dari RS Pelni & Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo, FK Universitas Indonesia memaparkan tentang update situasi terkini, identifikasi kasus yang terjadi dan cara-cara pencegahan yang dapat dilakukan oleh para tenaga kesehatan.
Kepala KKP I Soekarno Hatta, Anas Ma’ruf, menyampaikan berbagai langkah serta skrining yang diilakukan di Bandar Udara untuk menyikapi perkembangan case infeksi Novel Corona Virus (2019-NCov).
Sebelumnya, Menteri BUMN, Erick Thohir meminta RS BUMN harus cepat tanggap dalam mencegah masuknya virus tersebut masuk ke Indonesia. Langkah kesiapsiagaan tersebut dibuktikan dengan membentuk tim gerak cepat identifikasi dan pencegahan penyebaran virus Corona di seluruh Indonesia.
Sebagaimana diketahui, wabah Virus yang berasal dari Tiongkok ini telah menyebar ke 27 negara di dunia, dan telah menjadi perhatian WHO dan Kementerian Kesehatan seluruh negara. Saat ini telah ada 20.626 orang yang positif terinfeksi dengan korban sebanyak 462 jiwa. Angka kematian ini memang masih di bawah angka kematian akibat MERS dan SARS, namun kecenderungannya angka ini akan bertambah, sehingga harus diantisipasi oleh semua pihak.
Berbagai kesiapan pun dilakukan mulai dari membuat kamar isolasi hingga sumber daya manusia yang khusus penanganan virus corona. Rencananya RSPJ akan menjadi rumah sakit khusus penanganan pasien corona hingga tiga minggu kedepan.
Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Pertamina Jaya di Jakarta pada Rabu, 11 Maret 2020. Kunjungan ini dimaksudkan untuk memantau persiapan RSPJ sebagai salah satu rumah sakit BUMN yang akan dialihfungsikan menjadi rumah sakit khusus menangani penurunan imunitas tubuh salah satunya adalah untuk penanganan pasien Covid-19.
Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan jumlah kapasitas tempat tidur di RS Pertamina Jaya sebanyak 65 unit. Rumah sakit ini akan menangani pasien yang sudah positif virus corona.
"Jadi RS Pertamina Jaya akan gunakan bangunan lama di sekitar Cikini dan Pramuka. Itu ada ruangan isolasi dengan tekanan tinggi di tiga lantai, sehingga sistem penyaluran udaranya tidak terlewati virus," ungkap Arya, Selasa (17/3).
Ia merinci 65 unit tempat tidur itu terdiri dari 20 tempat tidur untuk perawatan setara ICU, sedangkan sisanya 45 tempat tidur untuk non ICU. Selain itu, RS Pertamina Jaya juga akan dilengkapi dengan laboratorium diagnostic untuk mendeteksi virus corona.
Seperti diketahui, dalam rangka mengantisipasi penyebaran virus Corona di Indonesia, Menteri BUMN Erick Thohir, telah menginstruksikan jajarannya agar menyiapkan 64 Rumah Sakit BUMN untuk bersiaga tangani masalah corona.
Pemerintah juga menyulap Hotel Patra Comfort sebagai rumah sakit untuk menangani masyarakat yang memiliki status ODP terkait virus corona. Arya menyatakan jumlah tempat tidur yang disediakan di hotel tersebut sebanyak 52 unit. "Jadi 52 tempat tidur itu untuk yang di hotel. Itu untuk ODP, jadi save house lah," jelas Arya.
Arya bilang akan ada 10 dokter spesialis, delapan dokter umum, dan tiga perawat yang terlatih menangani virus corona di rumah sakit dan hotel tersebut. Selain itu, pemerintah juga akan menambah kapasitas tempat tidur untuk menangani pasien yang terinfeksi virus corona.
"Sebanyak 90 tempat tidur kami tambahkan nantinya dengan bangunan khusus yang kami bangun. Ini dipersiapkan untuk pasien corona," pungkas Arya.
Direktur Utama Rumah Sakit Pertamina Pusat, dr. Fathema Djan Rachmat menjelaskan penyebaran virus Corona ini hanya bisa dicegah dengan membangun kesadaran dan kerjasama semua instansi terkait dengan rumah sakit terutama rumah sakit rujukan yang telah ditunjuk pemerintah.
“Pemahaman dan kerjasama harus dilakukan oleh semua pihak terkait dan 64 rumah sakit BUMN harus berperan aktif dalam pencegahan penyebaran infeksi Novel Coronavirus di Indonesia,” kata dr. Fathema.
dr. Fathema menambahkan penyebaran virus ini begitu cepat dan perlu mengambil langkah dengan tetap berhati-hati dan selalu siaga dalam menghadapi kemungkinan yang ada. Rumah Sakit BUMN yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dihimbau untuk melakukan kordinasi dengan pihak Kemenkes dan Dinas Kesehatan dari tingkat daerah hingga pusat dan 3 rumah sakit yang menjadi rujukan secara nasional, yaitu RSPAD Gatot Subroto, RS Persahabatan & RSPI Sulianti Saroso.
Dalam sosialisasi tersebut, pengetahuan tentang standar penanganan dan identifikasi sumber infeksi, juga digelar peragaaan penggunaan APD - Alat Pelindung Diri yang harus digunakan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit oleh Tim PPI RS Pusat Pertamina.
Direktur P2PML Kementerian Kesehatan RI, dr. Wiendra Waworuntu M.Kes mengingatkan atas pentingnya edukasi terhadap pasien, keluarga, dan masyarakat sehingga dapat meredam berita hoax yang beredar di masyarakat.
Sementara dr. Robert Shinto, SpPD, PTI-K dari RS Pelni & Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo, FK Universitas Indonesia memaparkan tentang update situasi terkini, identifikasi kasus yang terjadi dan cara-cara pencegahan yang dapat dilakukan oleh para tenaga kesehatan.
Kepala KKP I Soekarno Hatta, Anas Ma’ruf, menyampaikan berbagai langkah serta skrining yang diilakukan di Bandar Udara untuk menyikapi perkembangan case infeksi Novel Corona Virus (2019-NCov).
Sebelumnya, Menteri BUMN, Erick Thohir meminta RS BUMN harus cepat tanggap dalam mencegah masuknya virus tersebut masuk ke Indonesia. Langkah kesiapsiagaan tersebut dibuktikan dengan membentuk tim gerak cepat identifikasi dan pencegahan penyebaran virus Corona di seluruh Indonesia.
Sebagaimana diketahui, wabah Virus yang berasal dari Tiongkok ini telah menyebar ke 27 negara di dunia, dan telah menjadi perhatian WHO dan Kementerian Kesehatan seluruh negara. Saat ini telah ada 20.626 orang yang positif terinfeksi dengan korban sebanyak 462 jiwa. Angka kematian ini memang masih di bawah angka kematian akibat MERS dan SARS, namun kecenderungannya angka ini akan bertambah, sehingga harus diantisipasi oleh semua pihak.