![]() |
| Bocah berusia dua tahun di Prabumulih, Sumsel yang menderita gizi buruk |
Nasib pilu dialami seorang bocah bernama Rahiza (2). Buah hati dari pasangan suami istri, Hendri (27) dan Reni (23) warga Jalan Durian Flores, Kelurahan Gunung Ibul Barat, Kecamatan Prabumulih Timur, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami gizi buruk atau kurang gizi.
Meskipun sudah berusia dua tahun, berat badan Rahiza hanya menyentuh angka 7 kilogram. Padahal, ukuran berat badan ideal anak berusia dua tahun di angka 11-12 kilogram. Menurut Reni, sudah satu tahun terakhir anaknya mengalami gizi buruk.
Tak hanya berat badannya yang jauh di bawah normal, saat tim iNews mengunjungi kediamannya, kondisi Rahiza memprihatinkan. Dia terlihat lemas, layu dan pendiam. Dia juga sering menangis. Padahal, anak seusianya seharusnya sedang aktif-aktifnya dan lincah saat bermain.
Hendri dan Reni yang sehari-hari bekerja sebagai buruh harian kasar mengakui tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi anaknya. Dalam sehari, keduanya hanya bisa menghasilkan uang Rp50 ribu. Uang itu hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Pasutri ini juga terpaksa tinggal di lahan milik PT Kereta Api Indonesia. Rumahnya jauh dari kata layak. Rumah keluarga kecil ini hanya beratapkan daun nipah serta dinding papan. Lantainya pun masih dari tanah. Terlebih jika diguyur hujan, atap rumahnya selalu bocor seakan tak mampu menahan guyuran air yang jatuh dari langit.
Reni mengaku sudah mendapatkan bantuan dari puskesmas setempat. Namun, bantuan itu tak bisa memenuhi kebutuhan gizi sang anak.
"Iya dibantu dinas kesehatan, puskesmas, bawa roti sama susu. Tapi naik sekilo saja, terus turun lagi. Ini 6 kadang 7 kilogram," kata Reni.
Sementara itu, Lurah Gunung Ibul Barat, Joko Arif membenarkan warganya mengalami gizi buruk. Dia menyebut keluarga kecil itu sudah tinggal di wilayahnya sejak lima tahun terakhir. Pihak kelurahan sudah membantu keluarga ini untuk didata dan dimasukkan ke dalam daftar penerima bantuan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Program Keluarga Harapan (PKH).
"Kartu miskin belum, kartu keluarganya baru jadi bulan Agustus 2019 kemarin. Masih kami ajukan ke pemerintah," kata Joko.
Joko menduga, kondisi Rahiza diduga karena saat ibunya mengandung dia tidak pernah periksa atau pergi ke posyandu.
"Mungkin tidak pernah periksa kandungan saat hamil dan tidak pernah ke Posyandu. Makanya giat ke posyandu saat hamil dan setelah lahir," kata Joko.
Joko berharap agar warganya ini segera dibantu oleh Pemerintah Kota Prabumulih dan Pemerintah Provinsi Sumsel. Sehingga, kondisi Rahiza lekas membaik.
