Pasar Senen merupakan pasar tertua di Jakarta. Pada mulanya, pedagangan di pasar ini hanya berlangsung setiap hari Senin. Karena itu, namanya disebut Pasar Senen. Sejak tahun 1766, Pasar Senen juga dibuka selain di hari Senin.
![]() |
| Pasar Senen te Batavia |
Pada era pra kemerdekaan(1930an), para intelektual dan para pejuang bawah tanah dari Stovia sering berkumpul di kawasan Pasar Senen. Para pemimpin pergerakan yang sering nongkrong di kawasan itu antara lain Chairul Saleh, Adam Malik, Soekarno dan Mohammad Hatta.
Pada era penjajahan Jepang (1942) hingga tahun 1950an, kawasan Pasar Senen menjadi tempat favorit berkumpulnya para seniman era pujangga baru. Mereka dijuluki Seniman Senen. Nama-nama seperti Ajip Rosidi, Sukarno M. Noor, Wim Umboh, dan HB Yasin, muncul dari Senen.
Memasuki era 1970-1990an, nama kawasan Pasar Senen semakin membesar dan tumbuh sebagai pusat ekonomi dan hiburan. Bahkan saat pertunjukan film bioskop mulai dikenalkan di Jakarta, Senen tak ketinggalan. Dua gedung Bioskop “Rex” dan “Grand” dibangun guna memenuhi keinginan masyarakat akan hiburan.
Fenomena kehebohan kawasan Pasar Senen sebagai pusat perekonomian dan hiburan semakin menjadi saat Gubernur Ali Sadikin mencanangkan pembangunan “Proyek Senen” yang dilengkapi fasilitas gedung parkir melingkar. Itulah lokasi gedung parkir pertama yang ada di Jakarta. Sayangnya sejak peristiwa kerusuhan massal tahun 1998, pamor kawasan Pasar Senen mulai meredup.
Kini, kawasan Pasar Senen mulai ditinggalkan. Kemegahan dan kemewahannya perlahan memudar. Kios-kios besar kini digantikan oleh para pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya hingga tepi jalan. Kawasan pasar bersejarah itupun mulai menjadi kumuh dan tidak terawat. Pada hari Jumat, 25 April 2014 Pasar Senen mengalami kebakaran hebat
![]() |
| Pasar Senen te Batavia |


