Soal Wanita Bali Toples: Telanjang Dada untuk Buktikan Kejujuran


Pada masa kini, wanita yang bertelanjang dada seenaknya bisa saja terkena tuduhan melakukan porno aksi. Namun, bagi masyarakat Bali, punya cerita lain tentang wanita yang bertelanjang dada. Sebab, dalam kultur masyarakat Bali di masa lalu, para wanita Bali memang suka bertelanjang dada yang dikenal dengan sebutan Wanita Bali Toples. Wanita Bali yang bertelanjang dada itu konon untuk membuktikan suatu kejujuran.


Sejarawan Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana, Denpasar, Dr. I Nyoman Wijaya MHum, mengatakan, pada sekitar tahun 1929 masih banyak terdapat wanita Bali toples. Makna kejujuran wanita Bali pada jaman dahulu ditunjukan dengan bertelanjang dada (dikenal dengan sebutan toples). Dengan bertelanjang dada tersebut, wanita dapat menjaga apa yang mereka miliki. “Barang siapa yang bisa menjaga barang paling terlarang, tetapi mahal itu akan dapat menjaga dirinya sendiri dan tidak membiarkan dirinya diganggu orang lain,” jelas I Nyoman Wijaya.

Melalui kejujuran yang diperlihatkan melalui dada telanjang tersebut, para wanita Bali kala itu akan bisa memperoleh kepercayaan dari orang lain. “Sebab jika buah yang dilarang itu tidak pernah disentuh, ia tidak akan layu. Jika buah itu masih segar, maka pemilik buah itu akan masih bisa dipercaya,” jelas Wijaya.

Dalam dokumentasi video  Michael Rogge yang diunggah ke youtube dapat terlihat jelas, bagaimana kehidupan wanita Bali tempo dulu yang biasa bertelanjang dada di tengah keramaian umum.

Hilangnya Wanita Bali Toples
Menurut I Nyoman Wijaya, Budaya Wanita Bali Toples itu akhirnya hilang perlahan setelah para wanita Bali banyak yang bersekolah keluar daerah. Mereka yang ikut gerakan bersekolah keluar Bali, yakni ke Probolinggo, Jawa Timur, ketika pulang mulai membuat penyadaran, khusunya tentang cara berpakaian, termasuk membuat kursus-kursus menjarit kebaya.

Ketika mulai diperkenalkan dengan pakaian kebaya lengkap disertai penutup dada ala Jawa, para wanita Bali awalnya merasa kesulitan. Pakaian kebaya ala Jawa itu dianggap tidak nyaman oleh kalangan perempuan Bali. Alasannya cukup sederhana,  kebaya dianggap dapat menggangu aktivitas para wanita Bali tempo dulu. Untuk lengan kebaya misalnya, dinilai terlalu panjang dan ujungnya mengecil. Dari situ, akhirnya ada upaya modifikasi. "Lengan kebayanya dibuat melebar hingga mudah dilipat. Dengan cara itu mereka tetap mudah bergerak saat menumbuk padi, dan kegiatan lainnya.